BAHASA kata yang asik untuk di perbincangkan. tidak sedikit orang yang menganggap remeh pembelajaran bahasa. karena bahasa merupakan makan sehari -hari bagi manusia sebai alat untu berinteraksi dan bersosialisasi. mungin pantas saja bagi orang awan berkata dmikian, tapi beda halnaya dengan orang yang berpendidikan,belajar bahasa merupakan tantangan tersendiri bakhan bisa dikatakan bisa disamakan dengan belajar itung-itungan(rumit). teori belajar bahasa tidak satu jurusan berkomunikasi tetapi belajar terbentuknya stuktur tuturan, asal muasal, artikata serta dampak dan juga membahasa tentang fonologi, morfologi, sosiolinguistik, pragmatik setra bahasa sastra. sebelum kita jauh berbicara masalah bahasa lebih baiknya kita berbicara tentang pengertian bahasa terlebih dahulu.
Menurut
Chaer dan Leonie Agustina, (2004: 17) dalam setiap komunikasi harus ada
komponen pokok, yaitu
Interaksi
DIGLOSIA
Diglosia
adalah suatu situasi kebahasaan yang relatif stabil, di mana selain terdapat
sejumlah dialek utama (lebih tepat, ragam-ragam utama) dari satu bahasa
terdapat ragam lain.
Menurut Kridalaksana (dalam Aslinda dan Leni Safyahya,
2007: 1) bahasa adalah sistem lambang bunyi yang abriter yang dipergunakan
dalam masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan
diri.
Bahasa dipergunakan manusia dalam segala aktivitas
kehidupan. Dengan damikian, bahasa
merupakan hal yang paling hakiki dalam kehidupan manusia. Recing Koen dan
Pateda (dalam Aslinda dan Leni Safyahya, 1993: 5) menyatakan, bahwa hakekat bahasa
bersifat mengerti, individual, kooperatif dan sebagai alat komunikasi.
Fungsi Bahasa
Menurut Soeparno, ( 2002: 5) fungsi umum bahasa adalah sebagai
alat komunikasi sosial. Di dalam masyarakat ada komunikasi atau saling hubungan
antar anggota. Untuk keperluan itu dipergunakan suatu wahana yang dinamakan
bahasa. Dengan demikian, setiap masyarakat dipastikan memiliki dan menggunakan
alat komunikasi sosial tersebut. Tidak ada masyarakat tanpa bahasa dan tidak ada
pula bahasa tanpa masyarakat.
Menurut Chaer dan Leoni Agustina, (2004: 14) fungsi bahasa
secara tradisional kalau ditanyakan apakah bahasa itu, akan di jawab bahasa
adalah alat untuk berinteraksi atau alat untuk berkomunikasi,dalam arti, alt
untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau juga perasaan.
Masyarakat Bahasa
Chaer dan Leoni Agustina, (2004: 36) mengemukakan yang
disebut masyarakat tutur bukanlah hanya sekelompok orang yang menggunakan
bahasa yang sama, melainkan kelompok orang yang mempunyai norma yang sama dalam
menggunakan bentuk-bentuk bahasa.
Fishman (dalam Chaer dan Leoni Agustina, 2004: 36)
masyarakat tutur adalah suatu masyarakat yang anggota-anggotanya setidaknya
mengenal satu variasi bahasa serta norma-norma yang sesuai dengan penggunaannya.
Pengertian Komunikasi
Menurut Uchjana dan effendi, (2007: 9) istilah komunikasi
atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata latin communicatio,
dan bersumber dari kata kommunis yang berarti sama. Sama di sini maksudnya adalah
sama kata. Jadi kalau dua orang terlibat dalam komunikasi, misalnya dalam
bentuk percakapan, maka komunikasi akan terjadi atau berlangsung selama ada
kesamaan makna apa yang sedang dipercakapkan. Kesamaan bahasa yang dipergunakan
dalam percakapan itu belum tentu menimbulkan kesamaan makna. Akan tetapi,
pengertian komunikasi yang dipaparkan di atas sifatnya dasar, dalam arti kata
bahwa komunikasi itu minimal harus mengandung kesamaan makna antara dua pihak
yang terlibat.
Chaer dan Leonie
Agustina, (2004: 17) mengutip dari webster menyebutkan komunikasi adalah proses
pertukaran informasi antar individu melalui sistem simbol, tanda, atau tingkah
laku yang umum. Pengertian komunikasi itu paling tidak melibatkan dua orang
atau lebih, dan proses pemindahan pesannya dapat dilakukan dengan menggunakan
cara-cara komunikasi yang dilakukan oleh seseorang.
(1)
Partisipan, yaitu pihak yang berkomunikasi,
pengirim dan penerima informasi yang dikomunikasikan. Pihak yang terlibat dalam
proses komunikasi tentunya ada dua orang atau ada dua kelompok orang, yaitu pertama
yang mengirim (sender) informasi, dan kedua yang menerima (receiver)
informasi.
(1)
Informasi yang dikomunikasikan. Informasi yang dikomunikasikan
tentunya berupa suatu ide, gagasan, keterangan, atau pesan.
Jenis Komunikasi
Menurut Chaer dan Leonie
Agustina, (2004: 20) membagi jenis komunikasi menjadi dua macam
(1)
Komunikasi verbal
Komunikasi verbal atau komunikasi bahasa adalah komunikasi
yang menggunakan bahasa sebagai alatnya. Bahasa yang digunakan dalam komunikasi
ini tentunya harus berupa kode yang sama-sama dipahami oleh pihak penutur dan
pihak pendengar yaitu yang berupa bahasa tulis dan bahasa lisan.
(1) Komunikasi NonVerbal
Komunikasi nonverbal
adalah komunikasi yang menggunakan alat, seperti bunyi peluit, cahaya (lampu,
api), isyarat bendera (semaphore).
Interaksi
merupakan bagian dari fungsi bahasa. Di sebuah masyarakat, lingkungan
pendidikan bahkan di Pasar sekalipun manusia sering melakukan interaksi. Dengan
adanya interaksi bahasa tersebut berarti
manusia melakukan sebuah kontak sosial
dan komunikasi.
Menurut Soekanto, (2005: 64)
bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan
hubungan antara orang-orang, perorangan, antara kelompok-kelompok manusia,
maupun antara orang perorang dengan kelompok manusia.DIGLOSIA
Menurut Ferguson (dalam
Chaer dan Leoni Agustina, 2004: 92) menyatakaan keadaan suatu masyarakat dimana
terdapat dua variasi dari satu bahasa yang hidup berdampingan dan masing-masing
mempunyai peranan tertentu disebut diglosia. Ferguson juga membagi pengertian
diglosia menjadi tiga yaitu:
Dialek-dialek utama itu, di antaranya, bisa berupa dialek
biasa, dan bisa berupa sebuah dialek standar atau sebuah standar regional.
Ragam lain (yang bukan dialek-dialek utama) itu memiliki
ciri:
(a)
Sudah sangat terkodifikasi.
(b)
Gramatikalnya lebih komplek.
(c)
Merupakan wahana kesusastraan tertulis yang sangat luas dan
dihormati.
(d)
Dipelajari melalui pendidikan formal.
(e)
Digunakan dalam bahasa tulis dan bahasa lisan formal.
(f)
Tidak digunakan (oleh lapisan masyarakat manapun) untuk
percakapan sehari-hari.
Alih kode
Menurut Appel (dalam Chaer dan Leoni Agustina, 2004: 106)
alih kode adalah gejala peralihan
pemakaian bahasa karena berubahnya
situasi yang disebabkan oleh datangnya orang ketiga dan dilakukan dengan sadar
dan sengaja dengan sebab tertentu.
Thelander (dalam Chaer dan Leoni Agustina, 2004: 115)
menyatakan bahwa alih kode adalah apabila dalam suatu peristiwa tutur terjadi
peralihan dari suatu klausa suatu bahasa ke klausa bahasa lain.
a)
Campur kode
Menurut Thelander (dalam Chaer dan Leoni Agustina,
2004:115) campur kode adalah apabila didalam suatu peristiwa tutur,
klausa-klausa maupun frase-frase yang digunakan terdiri dari kalusa dan frase
campuran (hybrid clauses, hybrid prases), dan masing-masing klausa atau
frasa itu tidak lagi mendukung fungsi sendiri-sendiri.
Fasold (dalam Chaer dan Leoni
Agustina, 2004: 115) menyatakan bahwa campur kode adalah apabila seseorang
menggunakan satu kata atau frasa dari suatu bahasa
Peristiwa Tutur
Peristiwa tutur adalah terjadinya atu berlangsungnya
interaksi linguistik dalam suatu bentuk ujaran atau lebih yang melebihi dua
pihak, yaitu penutur dan lawan tutur, dengan satu pokok tuturan, didalam waktu,
tempat dan situasi tertentu. Jadi, interaksi yang berlangsung antara seorang
pedagang dan pembeli di Pasar pada waktu tertentu dengan menggunakan bahasa
sebagai alat komunikasinya adalah sebuah peristiwa tutur (Chaer dan Leoniagustina,
2004: 47).
Percakapan yang tidak menentu (berganti-ganti menurut
situasi), tanpa tujuan ditentukan oleh orang-orang yang tidak sengaja untuk
bercakap-cakap, dan menggunakan ragam bahasa yang berganti-ganti tidak disebut
sebagai peristiwa tutur apabila memenuhi delapan komponen tutur, yang
dihuruf-huruf pertanyaan dirangkaikan menjadi akronim SPEAKING, Delhemes dalam (Chaer dan Leonia Gustina, 2004 :
48) komponen itu adalah:
S = Setting and scene
P = Partisipant
E = End: purpuse and goal
A =
Act sequncs
K =
Key: tenor sepirit of act
I = Instrumentalistis
N = Norm of interaction and interpretation
G =
Genre
Jenis Bahasa
Chaer dan Leoni Agustin(2004:
73) menyatakan bahwa berbicara mengenai variasi bahasa yang berkenaan dengan
penutur dan penggunaanya secara konkrit. Begitulah dalampembicaraan fariasi
bahasa itu berkenaan dengan idiolek, dialek, soiolek, kronolek, fungsolek, ragam
dan register. Pembicaran tentang fariasi bahasa itu tidak lengkap bila tidak
disertai dengan pembicaraan tentang jenis bahasa yang juga melihat secara
sosiolinguistik. Hanya bedanya dalam pembicaraan jenis ini kita bukan hanya
berurusan dengan suatu bahasa, serta variasinya, juga berusaha dengan sejumlah
bahasa baik Yang dimiliki repertoir suatu masarakat tutur maupun yang dimiliki
dan di gunakaan oleh sejumlah masarakat tutur. Di daerah perbatasan Jawa
Tengah-Jawa Barat jenis bahasanya sangat berfariativ. Sebagian kelompok
masyarakat ada yang menggunakan bahasa Sunda, sebagian kelompok masyarakat ada
yang menggunakan bahasa Jawa, bahkan ada pula sebagian masarakat tertentu yang komunikasinya
menggunakan bahasa Indonesia
Ragam Bahasa
1)
Pengertian Ragam Bahasa
Chaer dan Leoni Agustina, (2004: 61) mengemukakan variasi
atau ragam bahasa merupakan bahasa pokok dalam studi sosiolinguistik. Sedangkan
variasi itu adanya bentuk yang lebih dari satu
Sumarsono dan Paina Partana, (2002: 31) menyatakan bahwa ragam bahasa adalah variasi bahasa yang digunakan
dalam situasi, keadaan atau untuk keperluan tertentu.
1) Jenis Ragam Bahasa
Bahasa dapat dipandang secara diakronis dan sinkronis.
Secara diakronis, dapat dibedakan tahapan-tahapan bahasa yang berbeda-beda dari
waktu ke waktu. Secara sinkronis, variasi-vriasi bahasa dapat dibedakan menurut
pemakaian bahasa dan pemakai bahasa. Dari segi pemakai bahasa dialek regional (geografis), (1). Dialek sosial, (2). Dialek
khusus dan, (3). Idiolek. Dari segi pemakaian bahasa, variasi-variasi bahasa
disebut ragam bahasa, yang dapat dibagi menurut bidang pembicaraan, cara
berbicara dan hubungan di antara pembicara (Kridalaksana, 1985: 93).
Chaer dan Leoni Agustina, (2004: 62) membagi variasi
bahasa dari berbagai segi yaitu:
a)
Variasi-variasi dari Segi Keformalan (Situasi)
Berdasarkan tingkat keformalan (situasi) dapat dibagi
atas:
(1)
Ragam baku adalah variasi bahasa yang paling formal, yang
digunakan dalam situasi-situasi khidmat, dan upacara-upacara resmi. Ragam resmi
atau formal. Ragam bahasa yang digunakan dalam situasi resmi, dan tidak dalam
situasi yang tidak resmi. Ragam ini pada dasarnya sama dengan ragam bahasa baku
atau standar.
(2)
Ragam usaha atau ragam konsultatif. Wujud ragam usaha ini
berada di antara ragam formal dan ragam informal atau ragam santai.
(3)
Ragam akrab atau ragam intim, adalah variasi bahasa yang
biasanya digunakan oleh para penutur yang hubungannya sudah akrab. Ragam ini
ditandai dengan pengunaan bahasa yang tidak lengkap, pendek-pendek, dan
artikulasi yang sering kali tidak jelas.
(4)
Ragam santai atau ragam kasual. adalah variasi bahasa yang
digunakan dalam situasi tidak resmi untuk berbincang- bincang dengan keluarga
atau teman akrab.
a)
Dari Segi Sarana
Berdasarkan segi sarana
dibagi menjadi dua tingkatan yaitu:
(1)
Ragam Lisan, menyampaikan informasi secara lisan dapat
dibantu dengan nada suara, gerak-gerik tangan dan sejumlah gejala fisik lainya.
(2)
Ragam tulisan, dalam berbahasa tulis lebih menaruh perhatian
agar kalimat-kalimat yang disusun bisa dipahami pembaca.
b)
Dari segi penutur (Pemakai)
Berdasarkan penutur berarti, siapa yang menggunakan bahasa
itu, apa jenis kelaminnya dan kapan bahasa digunakan. variasi dari segi penutur
ada variasi yang disebut:
(1)
Idiolek, yakni variasi bahasa yang bersifat perseorangan.
(2)
Dialek, yakni variasi bahasa dari sekelompok penutur yang
jumlahnya relatif, yang berada pada suatu tempat, wilayah, atau area tertentu.
(3)
Sosiolek atau dialek sosial yakni variasi bahasa yang
berkenaan dengan status, golongan dan kelas sosial pada penuturnya.
(4)
Kronolek atau dialek temporal, yakni variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial pada zaman tertentu.
c)
Dari Segi Pemakaian
Variasi dari segi pemakaian
atau penggunaanya berarti bahasa untuk itu digunakan untuk apa, bidang apa, apa
jalur dan
Variasi bahasa berdasarkan bidang pemakain menyangkut
bahasa itu digunakan untuk keperluan
atau bidang apa, sehingga muncullah
beberapa ragam bahasa, seperti:
(1) variasi bahasa atau ragam bahasa sastra,
(2) ragam bahasa jurnalistik,
(3) ragam bahasa militer,
(4) ragam bahasa ilmiah,
(5) ragam bahasa niaga atau perdagangan (ragam jual beli).
Menurut Soeparno, (2002: 71-78) ragam bahasa atau variasi
bahasa, dapat dibedakan atas:
(1)
Variasi kronologis yaitu variasi bahasa yang disebabkan oleh
keurutan waktu atau masa (kronolek).
(2)
Variasi geografis yaitu variasi bahasa yang disebabkan oleh
faktor geografis atau regional(varia regional).
(3)
Variasi sosial yaitu
variasi bahasa yang disebabkan oleh faktor perbedaan sosiologis (sosiolek).
(4)
Variasi fungsioal yaitu variasi bahasa yang disebabkan oleh
faktor perbedaan fungsi pemakaian bahasa (fungsiolek).
(5)
Variasi gaya yaitu
variasi bahasa yang disebabkan oleh faktor perbedaan gaya bahasa (style).
(6)
Variasi kultural yaitu
variasi bahasa yang disebabkan oleh faktor perbedaan budaya masyarakatnya.
(7)
Individual yaitu variasi bahasa yang disebabkan oleh faktor
perbedaan perorangan (idiolek).
nah diatas telah saya sajikan mengenai pengertian funsi bahasa .sudah panjang sekali hanya baru pengertian dan fungsi saja , apakah anda sekarang akan menganggap remeh bahasa?????????????????
saya sambung lagi di lain kesempatan...........
selamat membaca da berusaha memahami isi bahasa. jangat mengangap remeh masalah yang kecil bsa kemungkinan yang kecil mengalahkan yang besar.

b.indonesia itu panjang,lebar,tinggi beratii ya pak. ..
BalasHapushahahahahha