Jumat, 09 Maret 2012

belajar bahasa tak semudah membalikan telapak tangan

BAHASA kata yang asik untuk di perbincangkan. tidak sedikit orang yang menganggap remeh pembelajaran bahasa. karena bahasa merupakan makan sehari -hari bagi manusia sebai alat untu berinteraksi dan bersosialisasi. mungin pantas saja bagi orang awan berkata dmikian, tapi beda halnaya dengan orang yang berpendidikan,belajar bahasa merupakan tantangan tersendiri bakhan bisa dikatakan bisa disamakan dengan belajar itung-itungan(rumit). teori belajar bahasa tidak satu jurusan berkomunikasi tetapi belajar terbentuknya stuktur tuturan, asal muasal, artikata serta dampak dan juga membahasa tentang fonologi, morfologi, sosiolinguistik, pragmatik setra bahasa sastra.  sebelum kita jauh berbicara masalah bahasa lebih baiknya kita berbicara tentang pengertian bahasa terlebih dahulu.



Menurut Kridalaksana (dalam Aslinda dan Leni Safyahya, 2007: 1) bahasa adalah sistem lambang bunyi yang abriter yang dipergunakan dalam masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.                       
Bahasa dipergunakan manusia dalam segala aktivitas kehidupan.  Dengan damikian, bahasa merupakan hal yang paling hakiki dalam kehidupan manusia. Recing Koen dan Pateda (dalam Aslinda dan Leni Safyahya, 1993: 5) menyatakan, bahwa hakekat bahasa bersifat mengerti, individual, kooperatif dan sebagai alat komunikasi.
       Fungsi Bahasa
Menurut Soeparno, ( 2002: 5) fungsi umum bahasa adalah sebagai alat komunikasi sosial. Di dalam masyarakat ada komunikasi atau saling hubungan antar anggota. Untuk keperluan itu dipergunakan suatu wahana yang dinamakan bahasa. Dengan demikian, setiap masyarakat dipastikan memiliki dan menggunakan alat komunikasi sosial tersebut. Tidak ada masyarakat tanpa bahasa dan tidak ada pula bahasa tanpa masyarakat.
Menurut Chaer dan Leoni Agustina, (2004: 14) fungsi bahasa secara tradisional kalau ditanyakan apakah bahasa itu, akan di jawab bahasa adalah alat untuk berinteraksi atau alat untuk berkomunikasi,dalam arti, alt untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau juga perasaan.
Masyarakat Bahasa
Chaer dan Leoni Agustina, (2004: 36) mengemukakan yang disebut masyarakat tutur bukanlah hanya sekelompok orang yang menggunakan bahasa yang sama, melainkan kelompok orang yang mempunyai norma yang sama dalam menggunakan bentuk-bentuk bahasa.

Fishman (dalam Chaer dan Leoni Agustina, 2004: 36) masyarakat tutur adalah suatu masyarakat yang anggota-anggotanya setidaknya mengenal satu variasi bahasa serta norma-norma yang sesuai dengan penggunaannya. 
      Pengertian Komunikasi
Menurut Uchjana dan effendi, (2007: 9) istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata latin communicatio, dan bersumber dari kata kommunis yang berarti sama. Sama di sini maksudnya adalah sama kata. Jadi kalau dua orang terlibat dalam komunikasi, misalnya dalam bentuk percakapan, maka komunikasi akan terjadi atau berlangsung selama ada kesamaan makna apa yang sedang dipercakapkan. Kesamaan bahasa yang dipergunakan dalam percakapan itu belum tentu menimbulkan kesamaan makna. Akan tetapi, pengertian komunikasi yang dipaparkan di atas sifatnya dasar, dalam arti kata bahwa komunikasi itu minimal harus mengandung kesamaan makna antara dua pihak yang terlibat.
 Chaer dan Leonie Agustina, (2004: 17) mengutip dari webster menyebutkan komunikasi adalah proses pertukaran informasi antar individu melalui sistem simbol, tanda, atau tingkah laku yang umum. Pengertian komunikasi itu paling tidak melibatkan dua orang atau lebih, dan proses pemindahan pesannya dapat dilakukan dengan menggunakan cara-cara komunikasi yang dilakukan oleh seseorang.
Menurut Chaer dan Leonie Agustina, (2004: 17) dalam setiap komunikasi harus ada komponen pokok, yaitu
(1)   Partisipan, yaitu pihak yang berkomunikasi, pengirim dan penerima informasi yang dikomunikasikan. Pihak yang terlibat dalam proses komunikasi tentunya ada dua orang atau ada dua kelompok orang, yaitu pertama yang mengirim (sender) informasi, dan kedua yang menerima (receiver) informasi.
(1)   Informasi yang dikomunikasikan. Informasi yang dikomunikasikan tentunya berupa suatu ide, gagasan, keterangan, atau pesan. 
  Jenis Komunikasi
Menurut Chaer dan Leonie Agustina, (2004: 20) membagi jenis komunikasi menjadi dua macam
 
(1)   Komunikasi verbal
Komunikasi verbal atau komunikasi bahasa adalah komunikasi yang menggunakan bahasa sebagai alatnya. Bahasa yang digunakan dalam komunikasi ini tentunya harus berupa kode yang sama-sama dipahami oleh pihak penutur dan pihak pendengar yaitu yang berupa bahasa tulis dan bahasa lisan.
(1)   Komunikasi NonVerbal
Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang menggunakan alat, seperti bunyi peluit, cahaya (lampu, api), isyarat bendera (semaphore).    


    Interaksi
Interaksi merupakan bagian dari fungsi bahasa. Di sebuah masyarakat, lingkungan pendidikan bahkan di Pasar sekalipun manusia sering melakukan interaksi. Dengan adanya interaksi bahasa  tersebut berarti manusia  melakukan sebuah kontak sosial dan komunikasi.
Menurut Soekanto, (2005: 64) bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan antara orang-orang, perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorang dengan kelompok manusia.

  DIGLOSIA 
Menurut  Ferguson (dalam Chaer dan Leoni Agustina, 2004: 92) menyatakaan keadaan suatu masyarakat dimana terdapat dua variasi dari satu bahasa yang hidup berdampingan dan masing-masing mempunyai peranan tertentu disebut diglosia. Ferguson juga membagi pengertian diglosia menjadi tiga yaitu:

Diglosia adalah suatu situasi kebahasaan yang relatif stabil, di mana selain terdapat sejumlah dialek utama (lebih tepat, ragam-ragam utama) dari satu bahasa terdapat ragam lain.


Dialek-dialek utama itu, di antaranya, bisa berupa dialek biasa, dan bisa berupa sebuah dialek standar atau sebuah standar regional.
 
Ragam lain (yang bukan dialek-dialek utama) itu memiliki ciri:
(a)    Sudah sangat terkodifikasi.
(b)   Gramatikalnya lebih komplek.
(c)    Merupakan wahana kesusastraan tertulis yang sangat luas dan dihormati.
(d)   Dipelajari melalui pendidikan formal.
(e)    Digunakan dalam bahasa tulis dan bahasa lisan formal.
(f)    Tidak digunakan (oleh lapisan masyarakat manapun) untuk percakapan sehari-hari.



    Alih kode
Menurut Appel (dalam Chaer dan Leoni Agustina, 2004: 106) alih kode adalah  gejala peralihan pemakaian bahasa  karena berubahnya situasi yang disebabkan oleh datangnya orang ketiga dan dilakukan dengan sadar dan sengaja dengan sebab tertentu.
Thelander (dalam Chaer dan Leoni Agustina, 2004: 115) menyatakan bahwa alih kode adalah apabila dalam suatu peristiwa tutur terjadi peralihan dari suatu klausa suatu bahasa ke klausa bahasa lain.
a)      Campur kode
Menurut Thelander (dalam Chaer dan Leoni Agustina, 2004:115) campur kode adalah apabila didalam suatu peristiwa tutur, klausa-klausa maupun frase-frase yang digunakan terdiri dari kalusa dan frase campuran (hybrid clauses, hybrid prases), dan masing-masing klausa atau frasa itu tidak lagi mendukung fungsi sendiri-sendiri.
Fasold (dalam Chaer dan Leoni Agustina, 2004: 115) menyatakan bahwa campur kode adalah apabila seseorang menggunakan satu kata atau frasa dari suatu bahasa


      Peristiwa Tutur
Peristiwa tutur adalah terjadinya atu berlangsungnya interaksi linguistik dalam suatu bentuk ujaran atau lebih yang melebihi dua pihak, yaitu penutur dan lawan tutur, dengan satu pokok tuturan, didalam waktu, tempat dan situasi tertentu. Jadi, interaksi yang berlangsung antara seorang pedagang dan pembeli di Pasar pada waktu tertentu dengan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasinya adalah sebuah peristiwa tutur (Chaer dan Leoniagustina, 2004: 47).

 
Percakapan yang tidak menentu (berganti-ganti menurut situasi), tanpa tujuan ditentukan oleh orang-orang yang tidak sengaja untuk bercakap-cakap, dan menggunakan ragam bahasa yang berganti-ganti tidak disebut sebagai peristiwa tutur apabila memenuhi delapan komponen tutur, yang dihuruf-huruf pertanyaan dirangkaikan menjadi akronim SPEAKING, Delhemes dalam (Chaer dan Leonia Gustina, 2004 : 48) komponen itu adalah:
S   =  Setting and scene
P    =  Partisipant
E    =  End: purpuse and goal
A   =  Act sequncs
K   =  Key: tenor sepirit of act
I     =  Instrumentalistis
N   = Norm of interaction  and interpretation
                  G   =  Genre
    Jenis Bahasa
Chaer dan Leoni Agustin(2004: 73) menyatakan bahwa berbicara mengenai variasi bahasa yang berkenaan dengan penutur dan penggunaanya secara konkrit. Begitulah dalampembicaraan fariasi bahasa itu berkenaan dengan idiolek, dialek, soiolek, kronolek, fungsolek, ragam dan register. Pembicaran tentang fariasi bahasa itu tidak lengkap bila tidak disertai dengan pembicaraan tentang jenis bahasa yang juga melihat secara sosiolinguistik. Hanya bedanya dalam pembicaraan jenis ini kita bukan hanya berurusan dengan suatu bahasa, serta variasinya, juga berusaha dengan sejumlah bahasa baik Yang dimiliki repertoir suatu masarakat tutur maupun yang dimiliki dan di gunakaan oleh sejumlah masarakat tutur. Di daerah perbatasan Jawa Tengah-Jawa Barat jenis bahasanya sangat berfariativ. Sebagian kelompok masyarakat ada yang menggunakan bahasa Sunda, sebagian kelompok masyarakat ada yang menggunakan bahasa Jawa, bahkan ada pula sebagian masarakat tertentu yang komunikasinya menggunakan bahasa Indonesia

      Ragam Bahasa
1)      Pengertian Ragam Bahasa
Chaer dan Leoni Agustina, (2004: 61) mengemukakan variasi atau ragam bahasa merupakan bahasa pokok dalam studi sosiolinguistik. Sedangkan variasi itu adanya bentuk yang lebih dari satu 
Sumarsono dan Paina Partana, (2002: 31) menyatakan bahwa ragam  bahasa adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan atau untuk keperluan tertentu.
1)      Jenis Ragam Bahasa
Bahasa dapat dipandang secara diakronis dan sinkronis. Secara diakronis, dapat dibedakan tahapan-tahapan bahasa yang berbeda-beda dari waktu ke waktu. Secara sinkronis, variasi-vriasi bahasa dapat dibedakan menurut pemakaian bahasa dan pemakai bahasa. Dari segi pemakai bahasa dialek regional (geografis), (1). Dialek sosial, (2). Dialek khusus dan, (3). Idiolek. Dari segi pemakaian bahasa, variasi-variasi bahasa disebut ragam bahasa, yang dapat dibagi menurut bidang pembicaraan, cara berbicara dan hubungan di antara pembicara (Kridalaksana, 1985: 93).
Chaer dan Leoni Agustina, (2004: 62) membagi variasi bahasa dari berbagai segi yaitu:
a)      Variasi-variasi dari Segi Keformalan (Situasi)
Berdasarkan tingkat keformalan (situasi) dapat dibagi atas:
(1)    Ragam baku adalah variasi bahasa yang paling formal, yang digunakan dalam situasi-situasi khidmat, dan upacara-upacara resmi. Ragam resmi atau formal. Ragam bahasa yang digunakan dalam situasi resmi, dan tidak dalam situasi yang tidak resmi. Ragam ini pada dasarnya sama dengan ragam bahasa baku atau standar.
(2)    Ragam usaha atau ragam konsultatif. Wujud ragam usaha ini berada di antara ragam formal dan ragam informal atau ragam santai.
(3)    Ragam akrab atau ragam intim, adalah variasi bahasa yang biasanya digunakan oleh para penutur yang hubungannya sudah akrab. Ragam ini ditandai dengan pengunaan bahasa yang tidak lengkap, pendek-pendek, dan artikulasi yang sering kali tidak jelas.
(4)    Ragam santai atau ragam kasual. adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi untuk berbincang- bincang dengan keluarga atau teman akrab.
a)      Dari Segi Sarana
Berdasarkan segi sarana  dibagi menjadi dua tingkatan yaitu:
(1)   Ragam Lisan, menyampaikan informasi secara lisan dapat dibantu dengan nada suara, gerak-gerik tangan dan sejumlah gejala fisik lainya.
(2)   Ragam tulisan, dalam berbahasa tulis lebih menaruh perhatian agar kalimat-kalimat yang disusun bisa dipahami pembaca.
b)      Dari segi penutur (Pemakai)
Berdasarkan penutur berarti, siapa yang menggunakan bahasa itu, apa jenis kelaminnya dan kapan bahasa digunakan. variasi dari segi penutur ada variasi yang disebut:
(1)   Idiolek, yakni variasi bahasa yang bersifat perseorangan.
(2)   Dialek, yakni variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada suatu tempat, wilayah, atau area tertentu.
(3)   Sosiolek atau dialek sosial yakni variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan dan kelas sosial pada penuturnya.
(4)   Kronolek atau dialek temporal, yakni variasi bahasa yang  digunakan oleh kelompok sosial pada zaman tertentu.
c)      Dari Segi Pemakaian
Variasi dari segi pemakaian atau penggunaanya berarti bahasa untuk itu digunakan untuk apa, bidang apa, apa jalur dan 


Variasi bahasa berdasarkan bidang pemakain menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan  atau bidang apa, sehingga muncullah  beberapa ragam bahasa, seperti:
(1) variasi bahasa atau ragam bahasa sastra,
(2) ragam bahasa jurnalistik,
(3) ragam bahasa militer,
(4) ragam bahasa ilmiah,
(5) ragam bahasa niaga atau perdagangan (ragam jual beli).

Menurut Soeparno, (2002: 71-78) ragam bahasa atau variasi bahasa, dapat dibedakan atas:
(1)          Variasi kronologis yaitu variasi bahasa yang disebabkan oleh keurutan waktu atau masa (kronolek).
(2)          Variasi geografis yaitu variasi bahasa yang disebabkan oleh faktor geografis atau regional(varia regional).
(3)          Variasi sosial  yaitu variasi bahasa yang disebabkan oleh faktor perbedaan sosiologis (sosiolek).
(4)          Variasi fungsioal yaitu variasi bahasa yang disebabkan oleh faktor perbedaan fungsi pemakaian bahasa (fungsiolek).
(5)          Variasi gaya  yaitu variasi bahasa yang disebabkan oleh faktor perbedaan gaya bahasa (style).

(6)          Variasi kultural  yaitu variasi bahasa yang disebabkan oleh faktor perbedaan budaya masyarakatnya.
(7)          Individual yaitu variasi bahasa yang disebabkan oleh faktor perbedaan perorangan (idiolek).     

nah diatas telah saya sajikan mengenai pengertian funsi bahasa .sudah panjang sekali hanya baru pengertian dan fungsi saja , apakah anda sekarang akan menganggap remeh bahasa?????????????????

saya sambung lagi di lain kesempatan...........
selamat membaca da berusaha memahami isi bahasa. jangat mengangap remeh masalah yang kecil bsa kemungkinan yang kecil mengalahkan yang besar. 






1 komentar:

  1. b.indonesia itu panjang,lebar,tinggi beratii ya pak. ..
    hahahahahha

    BalasHapus